ICH
VERMISSE DICH
Oleh Azis Abdullah
Malam
di taman Englishcher
Garten Munich terasa lebih dingin dari biasanya, terang lampu taman kota ini
pun tak mampu memberi cahaya pada pandangan mata ini, dan ramai taman ini yang
dipenuhi pasangan yang memadu kasih pun
tak mampu membuat pikiranku tarasa lebih ramai. Cahaya yang kudapat ini
temaram, dan keramaian ini tidak lain hanya wujud semu dari keheningan yang
kurasakan.
“Ahh,
apa ini? Ini tak biasa kurasakan, berbeda dengan malam di hari minggu terakhir
aku kesini. Malam ini Munich terasa lebih dingin, padahal salju tidak turun
malam ini.” Aku berkata dalam batinku sambil memperhatikan temaram cahaya lampu
taman yang padahal bila dilihat kedua
mataku ini cukuplah terang.
Ich vermisse dich
Hanya
ketiga kata itu yang selalu kuucapkan saat aku terduduk di kursi ini. Ya,
setiap malam yang terbayang di benakku adalah sosok wanita dengan rambut ikal dan panjang yang terurai indah bak helaian benang sutra. Apa
yang dapat kukatakan selain ketiga kata itu menyusul bayang-bayang wanita
cantik yang kutinggal pergi jauh di Indonesia sana.
Memang
sangat berat hati kurasakan untuk meninggalkan hadiah terindah yang kuterima
dari Tuhan, makhluk Tuhan yang mampu menandingi bulan saat purnama untuk
bersinar terangi malam dan dia mampu mengalahkan kehangatan matahari tiap hari
di tiap pagiku. Tak ada yang mampu menggantikannya.
Empat
tahun telah berlalu aku meninggalkannya di Indonesia. Entah bagaimana caraku
mengungkapkan apa yang tengah kurasa ini, aku sudah sangat merindukannya. “Ich vermisse dich, Vanessa.”
**
Kini
aku telah mendapatkan apa yang sudah lama kuimpikan, tambahan gelar pada namaku
untuk menyongsong hari depan kehidupanku. Apa yang telah kucapai ini bukan
hanya untuk kehidupanku sendiri, orang tuaku yang menginginkanku sekolah
setinggi-tingginya, bahkan aku sampai disini atas keinginan mereka. Dan juga
aku berada disini untuk menyongsong hidup bersama wanita idamanku yang telah
kujanjikan untukku kembali dan menyatukan semua mimpi dan harapan dengan ikatan
yang sungguh sakral, pernikahan.
Masih
kuingat bagaimana dinginnya Halim Perdanakusuma saat air mata kulihat membasahi
pipi mulus milik Vanessa, padahal hari itu cukup hangat ketika matahari masih
memberikan bayangan di permukaan bumi ini. Masih kuingat juga apa yang
mengiringi pacuan air mata yang membasahi pipinya, hanya satu, yaitu senyuman.
Tanpa kata-kata namun aku mengerti apa yang ia coba untuk ungkapkan.
“Hati-hati,
jaga hatimu, aku mencintaimu.” Satu senyuman penuh makna itu dapat kubaca
dengan mudahnya. Namun bukan hanya senyuman penuh harap yang kurasa, air mata
itu memberikanku penjelasan betapa getirnya perasaan yang ia miliki saat aku
perlahan demi perlahan menjauh sampai pesawat yang membawaku take-off dari landasan terbangnya.
Sebenarnya
sangatlah berat, berat hati ini untuk pergi, meninggalkan orang tua, Vanessa,
dan Indonesia. Memang aku sangat ingin pergi, namun hatiku sangatlah sulit
untuk menerima kenyataan bahwa aku harus meninggalkan semua itu demi impian dan
harapanku, orang tuaku dan termasuk diriku sendiri.
**
Kulihat
jam tangan yang berada di lengan kiriku, jarum merah detik berlarian mengikuti
waktu yang berlalu semakin larut. 8:32, malam semakin membawaku kedalam
kedinginan yang menusuk tulang-tulangku saat kusadari jam tangan yang kupakai
merupakan pemberian dari Vanessa.
Satu
hari sebelum aku pergi dari tanah air, semua orang terdekatku sudah kuberitahu
bahwa aku akan melanjutkan pendidikanku di Munich, Jerman. Semuanya, orang
terdekatku terkecuali orang tuaku karena merekalah yang menginginkan aku
melanjutkan pendidikan disana. Dan Vanessa, dia sudah kuberitahu jauh-jauh
hari.
Dan
waktu itu adalah hari selasa sore, masih kuingat dengan baik. Vanessa
mengajakku berjalan-jalan untuk sekedar berbincang. Kuingat saat itu dia
memegang kotak kecil dengan pita yang terikat manis di bagian atasnya untuk
menjaga isinya yang kurasa sangat berharga itu. “Apa itu? Apa itu untukku?”,
aku menebak sambil cengengesan. “Idiihh, sok
tau kamu!” Vanessa mencubit pinggangku dengan nada manjanya sambil
menjulurkan lidahnya, aku tertawa, dia gadis lugu yang lucu.
Sampai
di suatu taman, kami menemukan sebuah kursi yang kami rasa cukup nyaman untuk
kami jadikan tempat duduk untuk sekedar duduk dan berbincang.
Sore
itu cukup damai, angin berhembus dari Selatan ke Utara, sinar matahari mencoba
menerobos celah-celah kecil dedaunan berwarna merah milik pohon pucuk merah
yang bergoyang-goyang saat angin berhembus melalui celah dedaunannya.
Suasana
sangatlah tenang disaat Vanessa memberikan bingkisan kecil yang ada ditangannya
kepadaku, air mata perlahan membasahi pipinya, spontan aku tersenyum kecil dan
mengusap matanya, mencoba menghapus air matanya, “Itu memang untuk kamu.” Aku
mengangguk mengerti dan tersenyum.
“Boleh
aku membukanya sekarang?”
Vanessa
tersenyum dan mencoba menghapus air matanya sendiri, dia mengangguk.
Perlahan
ku lepaskan ikatan manis pita berwarna merah diatas bingkisan kecil dan kubuka
tutup bingkisan yang berbentuk persegi tersebut. Jam tangan, memang inilah yang
kuinginkan untuk hadiah ulang tahunku nanti, sederhana tetapi aku sangat
menyukainya.
“Swiss? Terima kasih banyak, cantik. Tapi
bukankah ulang tahunku masih dua bulan lagi?” ku usap-usap kepalanya namun aku
hentikan saat aku bertanya kenapa, karena memang ulang tahunku masih dua bulan lagi. “Dua bulan lagi
kamu kan tidak disini, oon! Jadi
sekarang saja.” Vanessa kembali menjulurkan lidahnya dan mengejekku, dia
tersenyum. Namun mungkin mengingat aku akan pergi esok harinya, dia menahan tangisnya.
Terasa
sangat hangat saat kulihat air mata Vanessa meleleh dan membasahi senyumannya.
Dengan penuh berharap agar peristiwa seperti ini terjadi lagi, atau hari tak
pernah beranjak dan masih akan terus seperti ini. Saat itu juga aku berpikir,
aku benar-benar menyayanginya, Vanessa Aliandra.
**
09:10.
Sudah
terlalu malam untukku memandangi angin menyentuh lembaran daun di Englishcer
Garten ini. Seperti biasa malam juga menjadi semakin dingin, dan sepi mengikuti
perginya keramaian dari taman ini.
Baru
saja pintu apartment terbuka, kulihat Nyonya Acelin yang berada dibelakang pintu sedang merapikan bunga kesayangannya.
“Oohh, Ronny. Kamu baru pulang ternyata, dari mana saja kamu? Diluar pasti
dingin sekali, aku dapat merasakannya ketika pintu itu kau buka. Ayo ikuti aku,
aku punya kue, mungkin kau mau beberapa, dengan susu hangat ini. Membantumu
untuk tidur lebih nyenyak,” dengan aksen Jerman yang khas dan senyumnya, Nyonya
Acelin menuntunku, dia menyiapkan beberapa keping kue dan segelas susu untuk
kubawa ke kamarku. Wanita tua yang baik hati. Aku sudah menganggapnya sebagai
ibu sendiri saat aku berada disini. “Danke,
Acelin,” aku berterima kasih padanya sambil tersenyum, dan aku menaiki tangga
menuju kamarku.
Aku
menyimpan piring kecil dengan beberapa keping kue dan segelas susu dari Nyonya
Acelin dijendela kamarku, tempat favoritku menatap kelap-kelip lampu
rumah-rumah di kota yang tenang ini. Aku memandangi pemandangan yang kudapat
sambil menikmati apa yang kudapatkan.
Setelah
kue yang kudapat tak tersisa satupun, aku tak bisa tertidur. Aku mengambil
violin kesayanganku di dalam lemari, membuka hardcase violin tua itu dan mengeluarkannya, masih mulus dan
mengkilap seperti dulu.
Sejenak aku menyetem senar violinku
agar tidak fals sehingga aku dapat memainkannya dengan indah. Lagu Für Elise
dari J.
Sebastian Bach aku mainkan, ini adalah lagu kesukaanku dan kemudian dari
Beethoven yang berjudul Moonlight Sonata. Lagu sendu nan lembut kesukaan
Vanessa yang biasa ia minta aku memainkannya ini mulai menyayat-nyayat hatiku.
“Ich vermisse dich, Ness”.
**
06:30
Aku terbangun ketika alarm berbunyi
dan kulihat matahari menyelinap masuk kedalam kamarku, sangat hangat dan mampu
membangkitkanku. Aku bergegas.
“Besok kau akan pulang ke Indonesia
ya, Ron?” Nyonya Acelin menyambutku turun dan dapat kulihat dia seperti sedih
mengetahui aku akan pulang esok hari, tapi aku berusaha tersenyum agar dia
dapat ikut tersenyum. “Ya, aku akan pulang besok. Sekarang aku mau
berjalan-jalan sebentar dan aku akan membeli cincin untuk wanitaku di
Indonesia.” Aku memang sering bercerita tentang Vanessa pada Nyonya Acelin.
“Ayo, jangan buang waktumu, berikan
dia yang terbaik dan terindah.” Nyonya Acelin tua itu tersenyum.
Aku berjalan keluar dan ternyata
cukup lembab hari ini, mungkin hujan turun tadi malam saat aku tertidur. Namun
yang pasti hari ini matahari cukup hangat untuk mengeringkan jalanan.
Sampai disudut kota aku menemukan
toko yang kucari, toko perhiasan. Bermaksud untuk mencari cincin berlian untuk
melamar Vanessa saat aku pulang ke Indonesia esok hari.
Vanessa memang sudah kuberitahu
seminggu yang lalu bahwa aku akan pulang esok hari, aku memberitahukannya lewat
video call, dan kulihat dia masih
gadis lugu yang kukenal. Aku tak sanggup berkata-kata namun yang kurasakan
ketika itu sangatlah kuat, aku sangat merindukannya. Dan tak lupa aku
menanyakan kesiapannya untuk kupinang, saat itu juga kulihat wajahnya sangatlah
berseri, dia memerah, kedua sudut bibirnya menggambarkan senyum.
Aku menemukan apa yang kucari dan aku
langsung jatuh hati. Cincin dengan satu berlian yang tak cukup besar aku pilih
untuk gadis istimewa yang akan kunikahi. Vanessa pasti akan menyukai apa yang
kudapat untuknya.
Senja terakhir di Munich kuhabiskan
dengan berjalan-jalan di taman indah favoritku di kota bersejarah ini,
Englishcer Garten. Aku berjalan dengan ditemani oleh angin, matahari senja dan dedaunan
yang berserakan di atas jalan setapak taman ini. Indah sekali, aku menghela
nafasku.
Dan di malam hari aku menyiapkan
kepulanganku ke Indonesia.
**
Pagi sekali aku berkemas, dan
menyiapkan segalanya yang dibutuhkan, passport, tiket pesawat dan yang lainnya
tak mau ku lewatkan. Terlalu sibuk berkemas, aku tidak sadar Nyonya Acelin
berada di pintu memperhatikanku, dapat kulihat ekspresi wajahnya. “Hari ini,
Ron?” dia tersenyum dan mencoba menyembunyikan kesedihannya. Aku mengangguk,
aku sudah siap untuk pergi. Aku menghampiri Nyonya Acelin, “Ich werde Sie vermissen, Acelin”, aku
berkata bahwa aku akan merindukannya. “Jangan pernah lupakan Acelin tua ini ya, Ron” dia tersenyum.
“Ayo jagoan, jangan sampai kau
ketinggalan pesawatmu.”, dia menyemangatiku. Aku memeluknya dan beranjak dari
apartment dengan ransel besar yang kugendong di punggungku.
Saat berada di bandara, aku
memberitahukan Vanessa lewat e-mail
bahwa aku akan sampai di Indonesia keesokan harinya karena memang perjalanan
dari Eropa bukanlah perjalanan yang membutuhkan waktu yang singkat. E-mail singkatku ternyata dibalas
olehnya. “Aku akan menunggumu, sayang.” Aku hanya tersenyum membaca balasan e-mail dari Vanessa.
**
08:30, aku sampai di bandara Halim
Perdanakusuma.
Aku mencari Vanessa, aku tak dapat
menemukannya. Firasat tak enak kudapatkan kembali disini dan sangat kuat
dibanding dengan firasat yang kudapat saat di pesawat tadi hari sedang subuh.
Perasaan yang sangat tidak mengenakkan. Aku mencoba meneleponnya namun tak ada
jawaban sama sekali. Aku khawatir.
Kuputuskan untuk pulang saja menuju
rumah dan menemui kedua orang tuaku untuk melepas rasa rindu terhadap mereka
dan menceritakan niatku untuk meminang Vanessa. Keduanya menyembunyikan
sesuatu, aku dapat merasakannya, mereka tak berkomentar dan hanya senyum kecil
dan getir. Ada sesuatu yang disembunyikan.
Beristirahat selama dua jam kurasa
cukup untuk memulihkan kembali energiku yang terkuras saat perjalanan kemarin
sampai pagi tadi. Tanpa menghiraukan firasat yang kudapat tadi pagi aku
membersihkan diri dan berniat untuk pergi kerumah Vanessa untuk melepaskan rasa
rindu yang tak mungkin kupendam lagi.
Mobilku yang sudah lama tak
kukendarai kini melaju dengan santai menuju rumah Vanessa.
Sampai dirumah Vanessa aku disambut
oleh kedua orang tuanya dengan hangat. Namun aku dapat melihat sesuatu yang
salah dengan mata keduanya, seperti tak mampu menatap mataku, sama seperti
kedua orang tuaku, mereka juga menyembunyikan sesuatu. Mereka berdua berpakaian
hitam, mungkin habis menghadiri upacara pemakaman, “Ada apa, om? Tante? Ada
yang salah? Dimana Vanessa?” aku bertanya pada mereka, namun aku tak mendapat
jawaban atas pertanyaanku.
Keduanya masih terdiam sampai salah
satu diantara mereka berbicara, ayah Vanessa yang berbicara. “Nak Ronny, kita
batalkan saja tak apa?” dapat kulihat dari matanya, ada yang salah, aku
terhentak mendengar pertanyaan yang sesungguhnya berupa pernyataan itu. “Kenapa
om? Ada apa?”, batinku bertanya-tanya. “Vanessa.. Vanessa.. Vanessa putri om..”
ia terbata tak mampu menyelesaikan kata-katanya. Ibunda Vanessa ikut berbicara,
“Vanessa sudah meninggal, tadi pagi saat dia menuju bandara dan ingin
menjemputmu, Ron.” Tangisnya meledak.
Vanessa?
Dia meninggal? Apa ini mungkin? Aku
menganggap ini hanyalah lelucon dan kembali bertanya pada keduanya namun
jawabannya masih sama seperti yang kudengar pertama kali. Mampukah aku merubah
jawaban dari mereka berdua? Ini tidak mungkin!
Aku meminta bukti atas pernyataan
keduanya, mereka menyanggupinya. Mereka ingin membawaku ke makam Vanessa.
Pikiranku sangatlah kacau dan aku tak mampu berpikir jernih, aku mengemudikan
mobilku atas petunjuk keduanya.
Aku sampai dan mereka menunjukkan
nisan yang bertuliskan
Vanessa
Aliandra binti Hariono, lahir 15 Januari 1989, wafat 21 Agustus 2013.
Meninggalnya Vanessa memang bukan
lelucon, 21 Agustus 2013 masih hari ini.
Tadi pagi?
Vanessa meninggal tadi pagi? Saat tadi dia akan menjemputku?
Seketika aku rubuh, seakan menyatu
dengan gundukan tanah berwarna merah yang masih baru tersebut. Air mataku sudah
tak dapat kubendung lagi karena memang aku sangat mencintainya. Air mataku
membasahi tanah pekuburannya.
“Vanessa?” aku hanya mampu menangis
dan suaraku cukup parau untuk mengetahui bahwa gadis yang kucintai sudah
meninggal.
**
Empat tahun berlalu dari kejadian
menyedihkan yang tak mampu kulupakan.
Kini aku sudah mempunyai seorang
istri dan seorang bayi. Aku pernah menceritakan tentang Vanessa pada istriku
dan ternyata dia tak merasa risih ketika aku bercerita. Aku sudah pernah
merasakan dan aku tak pernah ingin merasakannya lagi, itu juga yang kuceritakan
pada istriku.
Satu waktu, aku mengajak istriku
untuk datang ke makam Vanessa, dia
tak menolak dan dengan senang hati menerima ajakanku.
Aku menemukan makamnya dan
menaburkan bunga diatas tanah yang kini menjadi rumah dari gadis cantik, lugu, yang
dulu sangatlah kukagumi. Tiba-tiba angin halus kurasakan menyentuh tubuhku,
istriku pun ikut merasakannya, dan bayiku yang sedang digendong ibunya tersenyum
seperti melihat sesuatu yang sangatlah indah.
Dengan berani aku berkata dalam
hatiku bahwa angin yang berhembus
itu adalah sapaan dari Vanessa, dengan sedikit bergumam aku berkata, “Ich vermisse dich, Vanessa.”
SELESAI
Tidak ada komentar:
Posting Komentar